Risk Breakdown Structure (RBS)

Posted: Desember 26, 2010 in Uncategorized

RBS digunakan terutama dalam upaya untuk melakukan kategorisasi masing-masing risiko. RBS adalah pengelompokan risiko dalam suatu komposisi hirarkis risiko organisasi yang logis, sistematis dan terstruktur secara alami sesuai dengan struktur organisasi atau proyek. Sasaran penerapan RBS adalah kejelasan pemangku risiko dan peningkatan pemahaman risiko organisasi atau proyek dalam konteks kerangka kerja yang logis serta sistematis.

RBS sendiri terdiri dari 2 (dua) tahapan yaitu pengembangan RBS dan tahap penerapannya. Pada tahap pengembangan meliputi penyusunan hierarki yang didasarkan pada struktur organisasi atau struktur proyek yang ada atau berdasarkan pengalaman masa lalu. Bila terjadi perubahan struktur organisasi atau struktur pekerjaan proyek (work breakdown structure) maka RBS perlu disusun ulang untuk disesuaikan dengan struktur yang baru.

Hasil pengembangan RBS pada tahap pertama akan berfungsi sebagai sumber informasi pada tahap berikutnya untuk proses identifikasi risiko, analisis risiko dan pelaporan risiko. secara keseluruhan RBS ini mirip dengan aplikasi dari pengembangan risk taxonomy hanya lebih mengacu pada struktur organisasi yang berbeda atau WBS (Work Breakdown Structure) yang telah dikembangkan.

  • Tahapan pelaksanaan RBS

Bila RBS akan diterapkan pada proyek maka proses pengembangan RBS menggunakan WBS (Work Breakdown Structure). WBS ini adalah struktur pembagian kerja proyek secara hirarki yang khusus dikembangkan untuk keperluan proyek tersebut. Pada penerapannya untuk organisasi, selain proses bisnis juga didasarkan pada struktur organisasi yang ada. Sebagai input untuk proses penyusunan RBS adalah risiko-risiko yang pernah dialami dan hamper selalu berulang. Begitu pula dengan sumberr-sumber risiko yang tidak diketahui. Hasil proses pengembangan RBS ini dapat berbentuk hirarki potensi sumber risiko bagi organisasi dan seringkali mempunyai tampilan seperti bagan organisasi.

Proses pengembangan RBS merupakan suatu kegiatan yang sampai berguna untuk melakukan tinjauan terhadap area-area yang menjadi perhatian dan potensi keterkaitan diantara area-area tersebut. Pelaksanaan pengembangan RBS ini dapat dilakukan dengan pendekatan top-down atau bottom-up, sama seperti pengembangan Work Breakdown Structure. Perhatikan tentang perlunya pemahaman yang cukup mengenai peringkat dari sumber-sumber risiko yang terdapat dalam organisasi.

Tahapan utama dalam menyusun RBS dengan pendekatan top-bottom adalah sebagai berikut ;

  • Identifikasi kelompok-kelompok besar sumber risiko. cara termudah adalah dengan memperhatikan struktur organisasi yang ada. Secara sederhana, struktur organisasinya terdiri dari bagian manufacturing atau produksi, bagian pemasaran, bagian keuangan serta bagian SDM (Sumber Daya Manusia) dan umum. Dengan demikian, kelompok besar sumber risiko dapat diidentifikasi dengan pengelompokkan organisasi ini, yaitu risiko manufacturing, risiko pemasaran, risiko financial dan risiko organisasi atau aorang.
  • Jabarkan kelompok besar sumber risiko tadi menjadi tingkatan risiko yang lebih kecil lagi, misalnya untuk risiko manufacturing dipecah lagi menjadi risiko mutu (quality risk), risiko proses produksi (production process risk), risiko kerusakan peralatan produksi (maintenance risk), risiko supply utilititas (listrik, air, angin bertekanan, oli dan sebagainya), risiko bahan baku (kelangsungan pasokan, keajegan mutu dan lain-lain), risiko bahan pendukung, risiko pencemaran lingkungan dan lain-lain.
  • Hasil penjabaran di atas masih juga harus dijabarkan lagi menjadi sub-kelompok yang lebih kecil dan dilakukan secara berulang hingga proses dekomposisi ini mencapai tahapan yang memungkinkan penanganan risiko dalam tataran yang memuaskan. Artinya dapat diketahui dengan jelas pemangku risikonya (risk owner) dan dapat dirumuskan perlakuan terhadap potensi risiko yang ada pada level yang cukup rendah.
  • Persyaratan dan Aplikasi

Dalam menyusun RBS diperlukan partisipasi yang cukup dari anggota organisasi terkait, terutama dari mereka yang memahami proses organisasi dan dapat membedakan dengan rinci potensi dari masing-masing risiko yang ditemukan. Selain itu ketersediaan struktur organisasi dengan kejelasan sasaran dan fungsi akan sangat membantu. Bila dipergunakan pada proyek maka ketersediaan Work Breakdown Structure proyek akan sangat membantu dalam menyusun RBS.

Penyusunan RBS pada dasarnya tidak memerlukan peralatan khusus karena lebih bersifat administratif. Yang diperlukan adalah kreativitas dan partisipasi anggota organisasi yang memahami proses organisasi dan dapat membedakan secara rinci potensi risiko yang ada. Hal ini ditunjang dengan fasilitas ruangan dan peralatan rapat yang memadai. Dengan demikian, biaya yang diperlukan adalah biaya fasilitas ruangan dan perlengkapannya serta biaya orang yang terpaksa ,menyisihkan waktunya dalam proses penyusunan RBS ini. Waktu yang diperlukan akan sebanding dengan volume potensi risiko yang ditemukan. Begitu juga dalam penerapannya kelak.

Hasil yang diharapkan melalui proses RBS adalah struktur hirarkis risiko-risiko organisasi dan informasi rinci risiko yang tercantum dalam struktur, yang diperoleh melalui analisis terhadap masing-masing risiko yang tercantum pada diagram tersebut. RBS akan sangat membantu dalam proses perencanaan manajemen risiko untuk mengindentifikasi potensi risiko telah dapat diindentifikasi. Sekaligus keterkaitannya dengan para pemangku risiko dalam organisasi. Selain itu RBS juga akan  membantu pelaksanaan seleksi metode dan sumber daya untuk menangani potensi risiko yang telah terindentifikasi. Hal lain yang dapat memanfaatkan hasil RBS adalah rekayasa proses. Ini terjadi karena dengan mengetahui potensi risiko yang akan terjadi maka dapat direncanakan suatu bentuk lain yang akan mengurangi penyebab terjadinya risiko tersebut.

Hal yang kurang terlihat dalam penggunaan RBS adalah identifikasi risiko eksternal (dampak dari kondisi ekonomi, politik, sosial, hukum dan lain-lain) untuk hal ini, perlu kewaspadaan pimpinan organisasi dalam memetakan potensi risiko yang mungkin terjadi dan mengalokasikannya kepada pemangku risiko terkait secara tepat.

Sumber Pustaka :

Leo J. Susilo dan Victor Riwu Kaho, Manajemen Risiko berbasis ISO 31000 untuk industri non perbankan, Penerbit PPM, Jakarta, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s